Tak ada salahnya dicoba dulu, itupun setelah pemikiran daur ulang yang dipertimbangkan secara matang, dibolak balik ya tetap bundar juga..begitulah yang terlintas dibenak temanku lima belas tahun yang lalu. Melihat hampir semua teman sekolah merantau ke ibukota entah untuk sekolah, ikut orang tua yang pindah, pengaruh propaganda para orang terkemuka atau apapun istilahnya..Hadikar (hadi kartini) temanku akhirnya berangkat juga ke ibukota dengan berijazah menengah pertama doang..satu tujuan ke tempat om atau tante yang sudah lama ngendon di betawi sono. Perkara dibukain pintu atau disuruh cuci piring, ngga masalah, yang penting kuhirup udara ibukota senikmat mungkin, walau itu kata orang udara terkotor se Indonesia..
Hadikar sudah jadi orang betawi (jakarta) dengan bla..bla yang tidak usah dikutip atau sadur kembali, cukuplah dikembangkan sendiri masing-masing. Naluri bisnis sang ayah ternyata sudah mengalir dari darah Hadikar sejak dari orok..suatu kebetulan tinggal didaerah yang banyak tukang jahit, tukang sablon, tukang korden..semua yang menyangkut dunia per kainan..cuman satu yang belum ada, ‘topi’..ya topi untuk segala acara, cuaca dan lainnya. Apalagi kalau topi tersebut bergambar bordiran (apapun) pasti mantap ujar Hadikar…ide demikian muncul saat motor vespanya kehabisan bensin persis didepan tukang jahit yang kurang lebih 150 meter dari rumah om nya.
Hari berikutnya Vespa biru mudanya sudah jadi Rupiah yang siap berubah menjadi topi bordir bergambar apapun asal lagi tren dan disuka, pikiran yang di jitu-jituin, sedikit angkuh tapi yakin bin nekat..ach ngga papa, kucoba dulu sambil mengelus dagunya sendiri. Tangan tuhan telah mengelus kepala Hadikar dengan sejuta makna keberuntungan..dua tempat toko topi Tanah Abang pusat segala grosir adalah langganan terpercaya bagi si Hadikar..ambil barang bayar belakangan sudah rutinitas untuk kedua belah pihak, ngga masalah win-win solution artinya.
Lupa harinya, ada acara exspo/pameran tahunan di balai sidang senayan, Hadikar nekat ikut berkecimpung partisipasi pada satu tempat kecil/corner/outlet/counter..apapun namanya plus diangkut juga tukang bordirnya sekalian dua orang yang memakai mesin baru gres dari toko walau itu masih separo bayar..percaya aja deh kata Hadikar..
ngga disangka ngga dinyana..laku keras bak kacang rebus, orang pada antri pengen topi bordir kesukaan diri, kesukaan perusahaan dan lainnya yang penuh kesukaan..Tiga hari tiga malam sepuluh juta rupiah bersih bingung mau ditaruh dimana kata Hadikar..Syukur tak terhingga kepada Yang Diatas meluruhkan air mata hadikar yang jatuh menetes dicelana dan sepatu Hadikar…Alhamdulillah , kata sakti mandraguna yang tiada duanya…amiiieen.

Yang penting halal jangan pernah ngutang apalagi meminta-minta..itulah yang terucap dari mulut Abdi. Banyak sudah getirnya hidup kulalui dengan rasa seadanya mengunci rapat keluhan jiwa yang rasa-rasanya tidak ada yang mendengarnya juga, ach biarin ucap Abdi sambil tersenyum. Dulu masa remajaku hanya ikan liar disungai yang menjadi barometer hidupku, yaah..cuman itu kebisaanku untuk urusan mancing ikan..tak tercetus sedikitpun untuk acara lainnya, hanya ikan-ikan yang kadang ada kadang tidak disekitar rumahku berlandasan rawa yang berair tawar dan hitam (sungai ber gambut). Rasa bosan, manusiawi..kurubah hidupku, ada modal seadanya kulangkahkan kaki menuju arah satu titik, jual poster dan stiker..kucoba dengan seribu doa.
















